Minggu, 08 November 2020

PARADIGMA PSIKOPATOLOGI BERDASARKAN PSIKODINAMIKA

 

ANAMNESIS & DIAGNOSIS MULTIAKSIAL



 

 

Hai teman-teman, mari kita bahas mengenai Paradigma Psikopatologi berdasarkan Psikodinamika.

Paradigma dalam kamus psikologi adalah satu model atau pola yang mendemonstrasikan semua fungsi yang mungkin ada dari apa yang tersaji. 

psikopatologi adalah ilmu bidang psikologi yang mempelajari penyakit mental, tekanan mental dan perilaku maladaptif. 

sedangkan psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian

Anamnesis adalah komunikasi aktif antara klien dengan psikolog atau dokter yang meliputi :

1.   Alasan berobat

2.   Riwayat gangguan sekarang

3.   Riwayat gangguan dahulu

4.   Riwayat pengembangan diri

5.   Latar belakang sosial, keluarga, pendidikan, pekerjaan, perkawinan, dll.

Diagnosis multiaksial terdiri dari 5 aksis yaitu :

Aksis I : gangguan klien, kondisi lain yang menjadikan fokus perhatian klinis.

Aksis II : gangguan kepribadian, retardasi mental

Aksis III : kondisi medik umum

Aksis IV : masalah psikososial dan lingkungan

Aksis V : penilaian fungsi secara global

Dengan catatan sebagai berikut :

Þ    Antara aksis I, II, III tidak selalu harus ada hubungan etiologik atau patogenesis.

Þ    Hubungan antara “aksis I-II-III” dan “aksis IV” dapat timbal-balik saling mempengaruhi.

Tujuan dari diagnosis multiaksial :

1.   Mencakup informasi yang “komprehensif” (gangguan jiwa, kondisi medik umum, masalah psikososial dan lingkungan, taraf fungsi secara global), sehingga dapat membantu dalam :

              Perencenaan terapi

              Meramalkan “outcome” atau prognosis

 

2.   Format yang “mudah” dan “sistematik”, sehingga dapat membantu dalam :

              Menata dan meng-komunikasi-kan informasi klinis

              Menangkap kompleksitas situasi klinis

              Menggambarkan heterogenitas individual dengan diagnosis klinis yang sama

3.   Memacu penggunaan “model bio-psiko-sosial” dalam klinis, pendidikan, dan penelitian.

 

Referensi : Buku saku diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ-III DSM-5 ICD-11.

https://www.youtube.com/watch?v=EaVntzfrXZI 

Referensi gambar : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fmajalahpendidikan.com%2Fanamnesisanamnesa-pengertian-tujuan-cara-dan-persiapan%2F&psig=AOvVaw1Pqop_8w7-GbU3z7pQd4-Y&ust=1604933326388000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCKj8lN6Y8-wCFQAAAAAdAAAAABAD

Rabu, 04 November 2020

TEORI PSIKOLOGI KESEHATAN & PATOLOGI

 

TEORI PSIKOLOGI KESEHATAN & PATOLOGI




Halo semuanya, kembali lagi kepada review materi psikologi klinis. Kali ini kita akan belajar mengenai apa itu psikologi kesehatan dan patologi.

Dasar dari pemikiran psikologi kesehatan adalah adanya hubungan antara pikiran manusia (mind) dan tubuhnya. Latar belakang sejarah  dari psikologi klinis sendiri sudah dikenal dengan nama Medical Psychology, dan sekarang selalu dikaitkan dengan Behavioral Medicine.

Dalam teori psikologi kesehatan dan patologi kita akan belajar :

1.    Definisi

2.    Psikosomatik dan psikologi kesehatan

3.    Hubungan antara pikiran dan perilaku

4.    Kepribadian, perilaku dan kesehatan

5.    Intervensi dan pencegahan dalam perspektif psikologi kesehatan


Ayo, mari kita bahas satu persatu....

Yang pertama yaitu definisi, menurut Matarazzo (dalam Phares,1992) definisi Behavioral Medicine adalah suatu lapangan multidisplin penelitian ilmiah, pendidikan, dan praktik, yang berkaitan dengan kesehatan penyakit dan disfungsi faali yang terkait. Psikologi kesehatan memberikan sumbangan pada peningkatan promosi kesehatan, dan pencegahan serta penyembuhan penyakit. Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa psikologi kesehatan berfokus kepada hal-hal berkaitan yang berkaitan kepada kesehatan penyakit dan peningkatan kesadaran bahwa kesehatan sangatlah penting baik secara fisik maupun mental.

Setelah membahas definisi kita akan membahas psikomatik dan psikologi kesehatan. Psikosomatis adalah bidang yang membahas hubungan antara pikiran (mind) dan perilaku. Menurut pendekatan psikosomatis, gangguan psikologis yang spesifik akan menimbulkan penyakit yang spesifik pula. Contohnya, gangguan emosi seperti menekan rasa sedih dan keinginan menangis, dapat muncul sebagai gejala asma. Contoh lain seperti kemarahan yang tertahan muncul dalam tekanan darah tinggi. Dalam pendekatan Behavioral Medicine dan psikologi kesehatan, tidak saja keadaan psikologi spesifik yang mempengaruhi tubuh dan penyakit, namun semua fungsi psikososial, misalnya kebiasaan makan yang kurang baik, merokok, gaya hidup stress. Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental dapat berpengaruh pula kepada kesehatan fisik, dan gangguan psikologis yang spesifik tidak hanya berpengaruh kepada penyakit yang spesifik tetapi dapat berpengaruh kepada semua fungsi psikososial.

Yuk pindah ke pembahasan yang ketiga mengenai hubungan antara pikiran dan perilaku. Hubungan antara pikiran, perilaku dan penyakit ada yang secara langsung dan tidak langsung. Contohnya hubungan secara langsung ialah pikiran tentang suatu stimulus psikososial dapat mencetuskan suatu respons psikofisiologis yaitu memikirkan kejadian traumatik yang menyebabkan jantung berdebar, terlalu stress mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Contoh hubungan tak langsung antara lain kebiasaan dan gaya hidup seseorang seperti contoh tersebut diatas. Jadi antara yang kita pikirkan akan menimbulkan perilaku tertentu yang dapat menyebabkan penyakit baik secara lansung maupun tidak langsung.

Pembahasan yang keempat adalah kepribadian, perilaku dan kesehatan. Selain hubungan langsung dan tak langsung, terdapat pula kaitan antara faktor-faktor kepribadian dengan penyakit dan perilaku tak sehat. Kadang kepribadian merupakan akibat dari suatu penyakit. Contohnya, seorang yang selalu menunda pekerjaan sehingga akhirnya harus selalu begadang. Variabel biologi kepribadian, seperti tempramen juga menentukan perilaku, dan dapat secara langsung berdampak pada sistem faali. Misalnya, tempramen pemarah mempengaruhi fungsi jantung. Dari penjelasan diatas kita dapat mengetahui bahwa tidak ada perilaku atau gaya hidup saja yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang tapi kepribadian juga dapat menjadi pengaruh suatu penyakit.

Nah sekarang saatnya kita akan membahas intervensi dan pencegahan dalam perspektif psikologi kesehatan. Pengertian intervensi sendiri secara umum adalah upaya untuk mengubah perilaku, pikiran atau perasaan seseorang. untuk keperluan pencegahan dan promosi kesehatan perlu dilakukan teknik-teknik diantara lain : kondisioning responden, extinction, relaksasi, kondisioning operan, biofeedback, strategi kognitif, metode pengelolaan diri (self management). Dalam pencegahan dapat dilakukan upaya mengurangi perilaku yang mengandung risiko menimbulkan penyakit dan upaya mengikuti dan mempertahankan perawatan dan pengobatan agar penyakit tidak kambuh atau menjadi makin parah, merupakan tujuan dari kegiatan pencegahan. Contohnya, makan makanan sehat seperti 4 sehat 5 sempurna, latihan fisik seperti olahraga, mengurangi stres seperti rekreasi, liburan. Oleh karena itu, kita harus selalu menyuarakan pentingnya kesehatan baik secara fisik dan mental dan juga kita harus melakukan berbagai kegiatan untuk mempertahankan kesehatan fisik dan mental.

 

 

Sekian review materi hari ini, kiranya dapat bermanfaat dan membantu, terimakasih 😊

 

Referensi :

Suprapti Slamet I.S. Sumarmo Markam.2003.Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : UI-Press.

Referensi gambar : https://alogaes.com/wp-content/uploads/2020/04/mental.jpg 

 

 

 

Senin, 19 Oktober 2020

KONSEP PERILAKU ABNORMAL BERDASARKAN PERSPEKTIF TEORI

 

KONSEP PERILAKU ABNORMAL BERDASARKAN PERSPEKTIF TEORI

 


 Halo semuanya, pada kali ini kita akan membahas konsep perilaku abnormal berdasarkan perspektif berbagai teori yaitu teori psikoanalisa, teori humanistik, teori behavioristik dan teori kognitif.



Teori Psikoanalisa



Teori pertama yang akan dibahas adalah Teori psikoanalisa. Teori psikoanalisa menganggap bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh faktor-faktor intrapsikis yaitu konflik tak sadar, represi dan mekanisme defensif yang mengganggu penyesuaian diri. Menurut Freud, esensi pribadi seseorang bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya.

Aspek-aspek kepribadian yang menjadi perhatian dari para tokoh adalah id, ego, superego oleh Freud. Id merupakan sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Berisi insting, impuls dan drives. Id beroperasi dalam daerah unconscious dan berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle) yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Ego berkembang dari Id agar orang mampu untuk menangani realita, beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle) dan sebagian besar berada di kesadaran dan sebagian kecil berada di daerah prasadar dan daerah tak sadar. Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian yang memakai prinsip idealistik (idealistic principle). Superego beroperasi di tiga daerah kesadaran dan mempunyai dua subprinsip yaitu consciense dan ego ideal.

Selain aspek-aspek kepribadian, tahap-tahap perkembangan psikoseksual juga harus diperhatikan. Tahap-tahap tersebut meliputi :

Fase oral (usia 0;0 – 1;0)

Pada fase oral mulut merupakan daerah pokok  aktivitas dinamik atau daerah kepuasan seksual. Tahap ini secara khusus ditandai berkembangnya perasaan ketergantungan, perasaan ini muncul pada setiap orang dan dapat muncul kapan saja ketika merasa cemas dan tidak aman.

Fase anal (usia 1;0 – 2/3;0)

Pada fase anal dubur merupakan daerah pokok aktivitas dinamik dan di dalam fase ini terdapat latihan defakasi (toilet training). Dampak toilet training terhadap kepribadian di masa depan tergantung dari sikap dan metode orang tua yang melatih.

Fase falis (phallic) (usia 2/3;0 – 5/6;0)

Pada fase falis alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting. Perkembangan yang terpenting adalah timbulnya oedipus complex dan castration anxiety pada laki-laki dan penis envy pada perempuan.

 Fase laten (latency) (usia 5/6;0 – 12/13;0)

Pada fase ini anak usia 5 atau 6 tahun sampai remaja mengalami periode implus seksual. Pada fase ini anak-anak mengembangkan kemampuan sublimasi.

Fase genital (usia 12/13;0 – dewasa)

Fase genital dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam remaja. Fase ini berlanjut sampai orang tutup usia, di mana puncak perkembangan seksual dicapai ketika orang dewasa mengalami kemasakan kepribadian.

Setelah membahas aspek-aspek kepribadian dan tahap perkembangan psikoseksual, marilah kita mengenal apa itu mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan adalah strategi yang dipakai individu untuk bertahan melawan ekspresi impuls id serta menentang tekanan superego. Beberapa mekanisme pertahanan yang dideskripsikan Freud yaitu identifikasi, pemindahan/reaksi yang terdiri dari sublimasi, subtitusi, kompensasi. Dan yang ketiga yaitu represi.



Referensi teori psikoanalisa :

Suprapti Slamet I.S. Sumarmo Markam.2003.Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : UI-Press.

Alwisol.2019.Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang : UMM Press.

https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Fwww.erwinedwar.com%2F2018%2F06%2Fsigmund-freud-teori-kepribadian.html&psig=AOvVaw1xWPtpsp39KDQtU8sXLsoq&ust=1603186943603000&source=images&cd=vfe&ved=0CAMQjB1qFwoTCOiRxoCvwOwCFQAAAAAdAAAAABAE

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.betterhelp.com%2Fadvice%2Fpsychologists%2Fan-overview-of-abnormal-psychology-disorders-and-treatments%2F&psig=AOvVaw1pzSDAzbCu7-DpRVDV2sCD&ust=1603187052650000&source=images&cd=vfe&ved=0CAMQjB1qFwoTCKil-quvwOwCFQAAAAAdAAAAABAD

 

Teori Humanistik

 



 

Teori kedua yang akan dibahas adalah Teori Humanistik. Ada dua tokoh yang akan dibahas di teori humanistik yaitu Carl Rogers dan Maslow. Menurut Rogers manusia pada dasarnya baik, Rogers memiliki beberapa prinsip seperti berikut :

v  Setiap individu itu unik

v  Motif utama untuk maju adalah aktualisasi diri

v  Individu memiliki tujuan yang sudah ditentukan

Menurut rogers tidak semua orang bisa menjadi pribadi yang sehat secara psikologis. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya :

v  Kondisi berharga (positive regard) dan evaluasi eksternal dapat mengarah pada kerapuhan, kecamasan, dan ancaman

v  Incongruency antara diri ideal, self concept, dan self organismik

v  Pertahanan diri

v  Disorganisasi

Tokoh kedua dalam teori humanistik yang akan dibahas adalah Maslow. Teori Maslow yang sangat terkenal yaitu teori hirarki kebutuhan, dimana ada tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu :

1.      Physiological needs

2.      Safety needs

3.      Love needs / belongingness

4.      Esteem needs

5.      Self acualizations needs

Selain itu Maslow menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ri-ciri sebagai berikut : (Kartono, 2000)

Memiliki rasa aman yang tepat.

Memiliki penilaian diri dan wawasan yang rasional.

Memiliki spontanitas dan emosional yang tepat.

 Memiliki kontak dengan realitas secara efisien.

 Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat.

 Memiliki pengetahuan mengenai dirinya secara objektif.

Memiliki tujuan hidup yang adekuat, tujuan hidup yang realitistis yang didukung oleh potensi.

  Mampu belajar dari pengalaman hidupnya.

Sanggup untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kelompok.

 

Referensi teori humanistik :

Alwisol.2019.Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang : UMM Press.

Kartono.2000

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4ubwE9M2Ue0n8dwcUqU-CbBqlVd0kBmrXSZwliipKe7IbiECa9SfAtzZ3jzcZ6MiB43-QuB3x9CVwTKbE-IyELCORHZitZK59TEokw0ueLGqg7fV4HYk0ZwEKQuEWzqpp54YnnW6SXDfi/s1600/maslow.jpg


Teori Behavioristik

 



 

Teori ketiga yang akan dibahas adalah teori behavioristik. Dalam teori behavioristik ini kita akan membahas mengenai teori Skinner. Menurut Skinner tingkah laku abnormal berkembang dengan prinsip yang sama dengan perkembangan tingkah laku normal. Karena itu menurutnya tingkah laku abnormal dapat diganti dengan tingkah laku normal dengan cara sederhana yaitu memanipulasi lingkungan.

Skinner memiliki pendekatan orientasi belajar dengan prinsip-prinsip kondisioning klasik, kondisioning operan, dan belajar sosial. Nah apabila prinsip-prinsip belajar itu tidak dapat terselesaikan atau mengalami kegagalan akan berdampak kepada perilaku yang abnormal. Apa saja itu bentuk kegagalan dalam belajar ?

ü  Kekurangan tingkah laku (behavior deficit)

ü  Kesalahan penguatan

ü  Kesalahan memahami stimulus

ü  Merespon secara salah

Dapat disimpulkan bahwa tingkah laku abnormal harus difahami melalui sejarah reinforsemen yang diterima seseorang. Tingkah laku abnormal itu dapat diganti dengan cara sederhana, yakni dengan memanipulasi reinforsemen lingkungan, mengikuti kondisioning operan dan kondisioning responden.



Referensi teori behavioristik :

Suprapti Slamet I.S. Sumarmo Markam.2003.Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : UI-Press.

Alwisol.2019.Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang : UMM Press.

 https://ahadarblog.files.wordpress.com/2016/09/behavioristik.jpg?w=215&h=230

 


Teori Kognitif

 



  

Teori terkahir yang akan dibahas adalah teori kognitif. Pengertian kognitif sendiri adalah kemampuan berpikir yang melibatkan pengetahuan yang berfokus penalaran dan pemecahan masalah. Pendekatan kognitif memusatkan perhatiaannya tentang bagaimana manusia (bahkan hewan sekalipun) melakukan strukturisasi terhadap pengalaman, bagaimana mereka membuat suatu sense terhadap pengalaman-pengalaman tersebut kemudian mentransformasi stimulus-stimulus lingkungan menjadi informasi yang siap digunakan. Didalamnya terdapat juga tentang bagaimana seharusnya proses-proses mental seperti pikiran, persepsi, ingatan, perhatian, pemecahan masalah dan penggunaan bahasa dipelajari untuk memahami suatu perilaku.

 

referensi gambar :

https://www.dictio.id/uploads/db3342/original/2X/3/3c070fcf3b4a693b9859d3ddae7562a09f1e9b3e.jpg 

 


 

Selasa, 06 Oktober 2020

KONSEP PERILAKU NORMAL DAN ABNORMAL

 

Nama : Trianti Agustina Lay

NPM : 1511900033 (A)

Mata Kuliah : Psikologi Klinis

 

KONSEP PERILAKU NORMAL DAN ABNORMAL

Setelah memahami konsep dasar dari adjustment pada materi sebelumnya, saat ini kita akan mempelajari konsep dari perilaku normal dan abnormal dan kriterianya. Apa itu perilaku normal ? Abnormal ? apakah seperti aneh atau berbeda dari biasanya ? Mari kita bahas disini!

Perilaku Normal



Seseorang bisa dikatakan normal menurut Stern (1964) harus diperhatikan dari 4 aspek berikut :

1.     1. Daya integrasi

      2.  Ada tidaknya simtom gangguan

3.     3. Kriteria psikoanalisis

4.    4. Determinan sosio-kultural

Jadi orang dikatakan normal apabila ia dapat mengkoordinasikan dan mengintegrasikan suatu perilaku atau pemikiran dengan baik dengan keadaan sadar tanpa apa adanya gejala gangguan atau simtom. Adapun ciri-ciri normal dalam aspek penyesuaian dirinya adalah Menunjukkan penerimaan diri, Memiliki pandangan yang realistis terhadap dirinya, Berkepribadian utuh (tidak ada konflik batin dan toleransi terhadap stress), Memiliki kompetensi (fisik, intelektual, emosional,sosial), Mandiri dan bertanggung jawab dan Mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi

 

Perilaku Abnormal


 

Perilaku abnormal adalah perilaku yang dilakukan di luar batas wajar pada umumnya, menyimpang dari norma sosial atau tata aturan dalam hidup berkelompok sosial. Istilah tersebut dipakai untuk menunjuk kedalam aspek batiniah, kepribadian, perilaku ataupu problem yang bersifat kronik-berkepanjangan ataupun hanya simtom-simtom tertentu. Adapun kriteria perilaku abnormal sebagai berikut  : 

1. Menyimpang dari norma-norma statistik (kurva normal)

2. Menyimpang dari norma sosial (nonkonformitas atau berperilaku tidak patuh terhadap norma sosial)

3. Salah suai (maladjustment). Seperti yang dijelaskan pada materi sebelumnya, maladjustment tidak dapat memenuhi tuntutan dari lingkungan fisik maupun sosialnya.

4. Tekanan batin, memiliki perasaan seperti cemas, depresi, sedih atau rasa bersalah yang mendalam tetapi bukan menjadi patokan individu tersebut dikatakan abnormal.

5. Ketidakmatangan, perilaku individu tidak sesuai dengan usianya dan juga tidak tepat pada situasinya.

 

Sekian review materi konsep dasar normal dan abnormal, kiranya dapat bermanfaat. Terimakasih 😊

 

Referensi :

1.      Suprapti Slamet I.S. Sumarmo Markam.2003.Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : UI-Press.

2.      Supratiknya, A. (1995). Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius

Referensi gambar :

1.      Normal :https:  https://bit.ly/2F75cAJ 

2.      Abnormal : https://bit.ly/3jCaGT9 

Minggu, 04 Oktober 2020

KONSEP DASAR ADJUSTMENT

 

Nama : Trianti Agustina Lay

NPM : 1511900033 (A)

Mata Kuliah : Psikologi Klinis

 



KONSEP DASAR ADJUSTMENT

Sebelum mempelajari lebih dalam mengenai perilaku-perilaku abnormal, psikologi di bidang kesehatan dan patologi ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu adjustment. Menurut Scheneiders, Adjustment adalah sebuah proses mental maupun proses perilaku yang dilakukan oleh individu dalam meraih sebuah harmoni antara tuntutan dalam dirinya dan lingkungannya. Jadi adjustment adalah penyesuaian yang dilakukan individu (baik diri sendiri maupun orang lain) supaya selaras antara diri dengan lingkungannya. Tetapi tidak semua individu berhasil menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Oleh karena itu individu atau orang yang berhasil menyesuaikan dirinya disebut adjusted person dan orang yang gagal menyesuaikan diri disebut maladjusted person yang diakibatkan adanya hambatan yang berasal dari dirinya (internal) atau diluar dirinya (eksternal). Selain itu ada bentuk dari mekanisme penyesuaian diri diantaranya penyesuaian yang normal (well adjustment), maladjustement (salah penyesuaian) dan pathological adjustment.

Setelah memahami makna dari adjustment secara umum, marilah kita mempelajari dari segi psikologis yaitu penyesuaian psikologi. Ada tujuh bidang psikologi yang berkontribusi dalam penyesuaian diri psikologi diantaranya Psikiater dan Psikologi Medis yang mengarah kepada dinamika penyesuaian dan kesehatan mental. Yang kedua, Psikologi ekperimental dan empiris yang mengarah kepada tentang penyesuaian terjadi sebagai perkembangan alami dalam psikologi maupun psikiatri. Yang ketiga, Psikoanalisis yang mengarah kepada psikologi penyesuaian dengan beberapa konsep yang sangat diperlukan untuk memahami dan menafsirkan tanggapan yang membenarkan maupun maladjustif. Yang keempat, yaitu Teori Evolusi Biologi yang berperan penting dalam pertumbuhan psikologi penyesuaian. Yang kelima, Fungsionalisme dan Perilaku yang mengarah kepada masalah penyesuaian pada dasarnya adalah masalah praktis dan perilaku. Yang keenam yaitu,  Mental hygiene movement yang mengarah kepada penemuan wawasan dalam penyesuaian psikologi. Dan yang terakhir atau ketujuh Increase of mental disorder.

Selain gambaran secara umum dan segi bidang psikologisnya adjustment memiliki beberapa metodologi dalam penelitiannya yaitu Eksperimen, Studi korelasi, Prospective designs (hubungan antar variabel yang berubah karena waktu), Longitudinal dan Retrospective research (case control study). Berhubungan dengan penyesuaian psikologi dengan hidup sehat ada beberapa perilaku yang harus dilakukan yaitu perilaku meningkatkan kesehatan seperti olahraga, makan teratur, diet untuk kesehatan. Yang kedua Perilaku perlindungan kesehatan seperti kehadiran skrining kesehatan, vaksinasi, penggunaan kondom. Yang ketiga Perilaku yang membahayakan kesehatan yang harus dihindari seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan dan keempat Perilaku sakit peran yaitu kepatuhan terhadap rejimen medis.

 

Sekian tugas review yang saya tuliskan dengan tema konsep dasar Adjustment kiranya dapat bermanfaat. Terimakasih 😊

Referensi : Schneider, A.A. 2008. Personal Adjustment and Mental Health. New York: Holtt

Referensi gambar : https://georgedell.com/wp-content/uploads/2018/10/What-is-an-Adjustment_-lkn-2-1-1024x585.jpg

REVIEW BEDAH FILM & KASUS TEMA PSIKOPATOLOGI LANSIA

  KELOMPOK 7 : PSIKOPATOLOGI LANSIA (DEMENSIA VESKULAR) Hai guys kali ini kita akan bahas tema terkahir nih, yaitu psikopatologi lansia. P...